SIAPA AKU ??? Untuk Adik2ku yang mau Masuk PT

Posted: Juli 8, 2008 in 1
Tag:, ,

Kembali tapak – tapak kaki ini terus mengayunkan langkah, entah kapan berhenti dan entah kemana dibawa langkah ini. Setali dengan itu, pikiran pun mengembara ke alam entah berantah, dunia seperti apa yang akan kuhadapi dalam perjalanan hidup selanjutnya. Kegelisahan demi kegelisahan selalu menemani detik – detik perjalanan ini.
Sejenak pikiran pun kembali berhenti, sambil menarik napas panjang ”waktu berjalan begitu cepat ”… tak terasa terlontar keluar dari bibir ini. Ya, tiga tahun berlalu begitu cepat, tiga tahun yang penuh dengan cerita – cerita manis, penuh dengan canda tawa. Yah, tiga tahun sudah kuhabiskan dalam keceriaan dunia SMU ku, dunia yang slalu menjadi arti tersendiri dalam hidup ini.
Lalu kini, dunia macam apa yang harus kujalani ??? Apakah aku mampu menjalaninya ???
Yah, pikiran – pikiran seperti diatas selalu menghiasi setiap orang ketika hendak memasuki kehidupan kampus. Pikirian – pikiran yang berkelana mencari jawaban – jawaban yang entah bisa terjawab atau tidak. Aku pun tak tahu…
Kehidupan kampus memang sangat berbeda dengan kehidupan di bangku SMU. Kalau di SMU kita bisa bemanja diri, bisa ini dan bisa itu sesuai dengan keinginan kita. Tapi, di kehidupan kampus, semuanya itu bisa dikatakan hanya dalam angan. Karena kehidupan kampus menuntut sesuatu yang lebih dari itu, sesuatu yang slalu dengan tanggung jawab. Sesuatu yang slalu mempertimbangkan ini dan itu sebelum melakukannya.
Kehidupan kampus selalu mengedapankan rasio, selalu siapa, apa, mengapa, bagaimana, untuk apa. Slalu dan slalu mencari jawaban ” kenapa salah itu disebut salah dan kenapa bener itu disebut bener ”. Bukan zamannya lagi bahwa salah dan bener itu kita tahu dari orang laen, tapi kikta harus tahu dengan kemampuan kita, pencarian kita. Smuanya yang mungkin pada saat di SMU kita jarang mendapatinya.
Kita melihat banyak orang terpengaruh pada berbagai macam pola pikir. Pola pikir dapat pula mempengaruhi orang yang “non-verbal”. Pola pikir adalah kecenderungan manusiawi yang dinamis, ia dapat mempengaruhi siapa saja, ia dapat membantu kita, dapat pula merugikan kita.
Ada orang dengan pola pikir perfeksionis. Kita menilai diri kita begitu tajam sehingga sekilas kita tidak berani mencoba sesuatu yang tidak kita kuasai dengan sangat sempurna.
Ada orang dengan pola pikir obsesif, mengingat terus menerus sesuatu yang menakutkan kita sehingga kita menteror diri sendiri sampai rasa takut itu menjadi jauh lebih besar dari diri kita sendiri dan akhirnya kita berhenti sambil meyakini bahwa semuanya adalah malapetaka.
Ada juga orang dengan pola pikir pesimis. Kita meyakini bahwa kita telah dikutuk. Bagaimanapun kerasnya kita berusaha tapi yang datang selalu hal hal buruk. Kitapun tidak mampu melihat atau peduli akan keberhasilan kita karena kita memilih untuk hanya melihat pada kegagalan kita.
Ada orang dengan pola pikir bergantung pada orang lain. Kita sangat ingin untuk bebas tapi dilain pihak kita merasa bahwa hanya orang lain yang dapat menyelamatkan kita. Kita berpikir bahwa mereka mencintai kita karena mereka telah menyelamatkan kita. Kita merasa takut kehilangan hubungan baik yang telah lama dibina. Kita mendambakan kebebasan tapi kita sangat merasa tidak aman jika tidak bergantung pada mereka, takut mereka akan menelantarkan kita.
Ada orang dengan pola pikir “saling membutuhkan”. Kita memfokuskan diri untuk mencintai orang lain dan membuat orang yang dicintai menjadi bergantung pada kita dengan mencurahkan segala perhatian dan perasaan cinta kita kepadanya. Yang dicintai merasa orang lain tidak dapat mencintai-nya kecuali kita, Pada akhirnya orang yang kita cintai merasa tidak berdaya.
Ada orang dengan pola pikir membenci diri sendiri / suka melukai diri sendiri. Kita membuat diri kita sendiri menjadi seorang pesimis lalu melakukan hal yang sama pada orang lain. Tetap bertahan untuk tidak merubah diri bahkan mempengaruhi orang lain dengan cara menakut-nakuti bahwa akan ada sesuatu yang berbahaya apabila kita keluar dari pola pikir yang lama.
Kita dapat memiliki pola pikir yang optimistis. Kita percaya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Semua dapat dilakukan secara bertahap, biar lambat asal selamat maka kita akan berhasil melakukan sesuatu yang teramat sulit. Kita juga dapat memilih pola pikir seorang yang realistis. Dapat mengalahkan rasa takut dan hal-hal negatif dan melihat sesuatu tanpa menggunakan emosi lalu membuat rencana secara bertahap dengan penuh rasa percaya diri
Bahwasanya hitam tidak selalu jelek dan putih tidak selalu baik. Sesuatu yang jelek dapat sangat bermanfaat jika ada pada situasi yang tepat. Bahwa sesuatu yang kelihatan-nya baik mungkin dapat mencelakakan kita. Selalu berada dijalur tengah, berjalan dengan sendirinya tanpa diatur, tanpa emosi, menerima apa adanya tanpa penyesalan Ini merupakan cara terbaik untuk meraih kebahagiaan. Yang perlu kita pikirkan atau kuatirkan adalah saat sekarang ini, menit ini, detik ini, bukan kemarin ataupun esok hari. Semua langkah kita dapat dilakukan dengan benar jika kita tidak merasa putus asa dan tidak terlalu memikirkan hal-hal menakutkan yang belum terjadi atau memikirkan bahwa kita akan gagal. Jika kita dapat memfokuskan diri kita pada saat sekarang maka kita akan dapat jauh lebih sukses.
Kita juga dapat mempunyai pola pikir seorang yang mandiri. Tidak terlalu memikirkan perasaan orang lain sehingga orang lain dapat merasa bebas. Kita semua dapat menggali kemampuan diri secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing tanpa harus mempunyai perasaan bersalah, rasa malu ataupun rasa terbebani.
Setiap saat kita dapat menentukan pilihan untuk merubah pola pikir apakah kita akan tetap dengan pola pikir yang positif atau pola pikir yang negatif
Berat memang, tapi itu adalah yang terbaik bagi kita yang katanya orang – orang sebagai ”Generasi Penerus Bangsa ”. Kita tidak ingin menjadi generasi yang hanya mem beo saja apa kata orang dan bukan generasi yang hanya setuju aja dengan orang laen tanpa adanya keyakinan dalam diri kan ? Maka carilah kebenaran dari kebenaran itu sendiri, bukan dari orang.
Menutup tulisan ini, saya mengutip perkataan dari Stephen Covey “Kalau kita menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku kita, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma kita” Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda.
Sudah siapkah kita dengan kehidupan, tantangan, dan tanggung jawab yang baru ? Pilihan itu ada pada hati nurani kita. Kita ingin menjadi orang yang berarti atau hanya sekedar menjadi pecundang. Silahkan memilih dan silahkan mengertikan hidup !!!

Komentar
  1. R mengatakan:

    WlaupN q mSh kLz 2, q bgung sTlch lU2s nNti hrZ mMilih P ! q slalu mRsa bLm siap.
    Tp q g mO jd pCundang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s